Jan
22

SEMINAR

Posted by rizkiyana

Inovasi Radio 2.0
Get the Flash Player to see this player.

Seminar Nasional Inovasi Teknologi & Bisnis Radio 2.0
Get the Flash Player to see this player.

Foto-foto Kegiatan Seminar

INOVASI TEKNOLOGI & BISNIS RADIO 2.0

Untuk Membangkitkan Industri Kreatif Radio Siaran pada Era Koeksistensi dan Konvergensi Teknologi.

_______________________________________

Geliat Social Media dan Inovasi Radio Broadcasting 2.0

Oleh : DR. INDRA ABIDIN

PADA saat ini social media telah menjadi media baru yang pertumbuhannya sangat luar biasa. Hal itu memaksa traditional media seperti koran, radio, dan televisi mencari bentuk persenyawaan yang ideal dengan social media. Apalagi, para pengusaha sekarang ini tengah getol-getolnya mencari cara yang paling efektif agar produk dan brand perusahaannya bisa eksis di media baru. Mereka sangat berambisi memasukkan produk atau brandnya ke social media, entah ke Facebook atau ke Twitter karena terpukau oleh konsep Low Cost High Impact. Geliat media social dan dahsyatnya gelombang konvergensi TIK memaksa pengelola radio siaran di muka bumi ini untuk bisa “berselancar” di antara dua faktor di atas. Namun, untuk bisa berselancar dengan baik dibutuhkan infrastruktur dan proses pembelajaran bersama untuk mengerti karakter gelombang, agar bisa berselancar dalam ombak yang tinggi sekalipun. Infrastruktur dan proses pembelajaran cukup mahal jika dilakukan oleh masing-masing radio siaran. Hal itu bisa menjadi murah jika dilakukan secara kolaborasi dalam wadah lembaga independen yang kredibel dan mampu mengikuti perkembangan teknologi global.

Industri radio siaran sebaiknya juga memperhitungkan secara cermat pertumbuhan budaya prosumer. Dalam konteks itu individu akan menjelma menjadi produsen, sekaligus konsumen. Budaya prosumer bisa saja menjungkirbalikkan eksistensi jurnalisme radio. Sebaliknya juga bisa menjadi kekuatan baru. Karena seseorang yang sudah menjadi prosumer, oleh Thomas Friedman dalam the World is Flat digolongkan menjadi super empowered individu (SEI). Prosumer secara tidak langsung juga mendorong kreativitas tanpa batas. Bentuk-bentuk budaya prosumer dalam radio siaran diakselerasi secara luar biasa oleh inovasi radio digital dan internet. Kemudahan akses dan tingkat porteraktivitas tinggi telah mendorong seseorang untuk menciptakan, mengelola, dan menyebarkan informasi melalui perangkat-perangkat personal, seperti SMS, MMS, blog, internet. Dalam kondisi tersebut, individu mengalami mediamorfosa. Dalam arti menjadi reporter, sekaligus menjadi media.

Pengelola radio siaran sebaiknya menyadari bahwa model bisnisnya tidak harus repot-repot dari hulu sampai hilir. Jika pada era radio analog, radio broadcaster harus mengurus semuanya. Broadcaster berpola Content-Transmitter-StasiunRelay. Sedangkan dengan menggunakan Inovasi Radio Broadcasting 2.0 di era koeksistensi dan konvergensi yang berkaitan dengan transmisi bergeser dan sebaiknya diserahkan kepada pihak lain yang lebih berkompeten (network operator). Dengan demikian entitas radio siaran fokus saja sebagai content provider dan lebih banyak berkreasi dan berinovasi dari sisi konten atau materi siaran. Lembaga independen eBI selain memfasilitasi transformasi juga membantu adopsi berbagai macam aplikasi lifestyle seperti perangkat BlackBerry, aplikasi jejaring sosial (Facebook), hingga sistem Pandora.

Inovasi Radio Broadcasting 2.0 yang tengah dilakukan oleh eBI pada gilirannya nanti akan mewujudkan Radio Intelligence seperti yang terjadi di negara maju. Tantangan utama radio siaran di negeri ini adalah bagaimana secepatnya dirinya bisa menjadi bagian dari konvergensi itu. Hal itu sejalan dengan premis Mark Ramsey, President of Radio Intelligence USA. Uniknya, dalam berbagai kesempatan Mark Ramsey justru menyatakan bahwa musuh radio siaran adalah rating alias pemeringkatan. Selama ini rating cenderung menyamakan semua orang. Hal itu bertolak belakang dengan filosofi dan eksistensi social media. Dengan demikian tantangan radio siaran yang sebenarnya adalah bagaimana memenuhi kebutuhan audiens yang sudah tidak mau bersikap pasif. Mereka tidak mau lagi diatur dengan jadwal siaran. Kalau sudah seperti itu entitas radio di negeri ini harus melakukan transformasi kearah perkembangan jejaring sosial yang menekankan kolaborasi masal dan bersifat crowdsourcing. Sifat itu banyak diadaptasi dalam teknologi web 2.0. Transformasi bisa memberikan solusi interaktif seperti melibatkan pendengar untuk ikut memilih playlist lagu yang akan diputar. Mereka bisa voting melalui sms atau internet.

Forum-forum yang diselenggarakan oleh radio siaran di negeri ini sebaiknya mengambil tema bagaiman radio siaran harus mengarungi/berselancar di atas arus gelombang perubahan besar yang tak terelakkan. Apalagi perkembangan konvergensi teknologi di negara maju semakin membuat turn around entitas radio. Seperti contohnya aplikasi Pandora yang kini menjadi pesona luar biasa di Amerika Serikat. Kita bisa-bisa dibuat gagap oleh aplikasi di atas. Kita dibuat bingung, aplikasi itu disebut apa ? radio online, streaming radio, internet radio atau apa. Ini pertanyaan menarik karena beda dengan layanan streaming audio lain di internet. Pandora ini luar biasa menariknya lantaran bisa membaca selera lagu kita cukup dengan memasukkan apa lagu favorit kita dan otomatis dia akan membantu melacak lagu-lagu lain yang mirip. Pandora kini tengah berkolaborasi dengan Facebook dan Twitter. Juga dengan BlackBerry, Pioneer, Ford Motor dan lain-lain agar menggairahkan dan menyentak dunia. Untuk mengatasi kesenjangan teknologi di atas, e-Broadcasting Institute (eBI) sebagai lembaga yang bergerak di bidang pengembangan penyiaran dan teknologi, menghadirkan suatu inovasi dalam bidang penyiaran yang mampu menjawab perubahan dan tantangan lingkungan aktual guna menangkap peluang masa depan industri radio siaran yang cukup cerah. (*)

DR. Indra Abidin, adalah:

  • Chairman of Advisory Board e-Broadcasting Institute,
  • Chairman & World President of International Advertising Association,
  • CEO Fortune Indonesia Tbk.

I. LATAR BELAKANG

“Apakah mendengarkan RADIO harus menggunakan RADIO ?”,

Pertanyaan ini tidak perlu dijawab, pada era tahun ‘90-an, tetapi untuk saat ini pertanyaan ini justru sangat menggoda. Kenapa begitu … ?

Teknologi digital dan media baru (Internet dan Mobile) yang semakin marak telah men-drive penghuni planet ini untuk mencoba life style baru di dunia maya. Ditambah majunya riset teknologi informasi, komunikasi dan media di US/Eropa serta murahnya fabrikasi manufaktur dan elektronik di Asia Timur secara tidak langsung telah bersinergi menghasilkan barang murah berteknologi tinggi.

Dunia telah tersihir oleh munculnya Microsoft yang menyediakan operating system yang bersifat grafis, sehingga orang tidak perlu menghafal syntax sebuah command, tinggal meng-klik icon saja, Google telah menyediakan milyaran informasi yang dapat menjawab hampir seluruh pertanyaan, Facebook telah berjasa menjalinkan silaturahmi pertemanan bagi seluruh penduduk bumi.

Bagaimana kondisi industri radio siaran saat ini ?

Dewasa ini industri radio siaran sedang menurun, bahkan tidak sedikit radio di negeri ini dihimpit oleh beban biaya operasional. Kenapa demikian … ? Situasi telah berubah, mobilitas orang sangat tinggi, bahkan sangat jauh melewati boundary jangkauan frekuensi radio, sehingga “radionya” tidak dapat menjangkau pendengar setianya. Sisi lain kesibukan yang tinggi menyebabkan orang tidak sempat mendengarkan siaran kesayangannya pada jam on-airnya. Ditambah maraknya TV swasta yang menyajikan siaran yang sangat bervariasi. Kondisi ini yang menyebabkan bisnis di industri radio menjadi terus menurun, bahkan di Indonesia saat ini, Advertising Expenditure untuk Radio (RADEX) hanya mencapai 1,3% dari total Advertising Expenditure (ADEX).

Apabila belanja iklan di media atau Advertising Index (ADEX) pada tahun 1983 kurang dari Rp 200 Milyar (PRSNI), maka pada tahun 2009 diperkirakan telah mencapai lebih dari Rp 48,5 Trilyun (AC Nielsen). Pemakai internet yang pada tahun 2004 masih kurang dari 5 juta, tahun 2009 telah mencapai lebih dari 30 juta dan pada tahun 2014 diperkirakan diatas 70 juta (Sharing Vision). Pemakai mobile phone yang pada tahun 2004 hanya kurang dari 35 juta, tahun 2009 telah mencapai lebih dari 135 juta, dan tumbuh terus hingga diperkirakan pada tahun 2014 akan lebih dari 205 juta (Sharing Vision).

Dampak dari krisis ekonomi global yang baru lalu, Arbitron (ARB) sebuah perusahaan riset di Amerika Serikat menyatakan bahwa bisnis radio akan terus menurun, dan baru akan tumbuh positif di tahun 2012. Pertumbuhan industri radio ini akan banyak ditopang oleh perkembangan teknologi dan life style internet dunia, jumlah pengakses internet radio dan podcast di Amerika tumbuh pesat secara eksponensial, pada saat ini industri siaran radio Global & di US dapat mempertahankan RADEX pada kisaran 7,8% dan 13% ADEX.


Bagaimana radio siaran berselancar diatas gelombang perubahan besar yang tak terelakkan?

Berangkat dari hal tersebut diatas, e-Broadcasting Institute (eBI) sebagai lembaga yang bergerak di bidang pengembangan penyiaran dan teknologi, menghadirkan suatu inovasi dalam bidang penyiaran yang menjawab perubahan dan tantangan lingkungan aktual guna menangkap peluang masa depan industri radio siaran yang diprediksikan sangat cerah. eBI menargetkan peningkatan pendapatan radio menjadi 6 kali dalam 5 tahun kedepan (7,8% atau setara dengan rasio belanja iklan radio Global).

eBI menyediakan teknologi, layanan, dan inovasi bisnis bagi radio yang memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi terkini dalam seluruh aspek operasionalnya diantaranya dalam perencanaan dan pelaksanaan program acara siaran [on-Air], pengelolaan iklan (traffic), pengelolaan sumber daya radio, dll. Serta menyiapkan layanan transformasi bagi radio siaran sehingga siarannya dapat dinikmati pendengar baik secara analog (AM/FM), digital (IBOC/DAB), maupun via Internet dan Mobile Phone (live streaming, podcasting, …dll).

Jika pada era radio analog, radio broadcaster harus mengurus semuanya: Broadcaster berpola Content-Transmitter-StasiunRelay, dengan menggunakan Inovasi Radio Broadcasting 2.0, di era koeksistensi dan konvergensi analog-digital-internet-mobile radio harus fokus sebagai Content Provider dan lebih banyak berkreasi dan berinovasi dari sisi konten/materi siaran, sedangkan yang berkaitan dengan transmisi bergeser dan diserahkan kepada pihak lain yang lebih berkompeten (network operator).

II. TUJUAN DAN SASARAN

  • Mendorong stasiun radio untuk meningkatkan profesionalitas dan kemandiriannya, serta memenuhi Standard Kompetensi Stasiun Radio yang tinggi.
  • Membuka wawasan stasiun radio dalam pemanfaatan dan penggunaan Teknologi Informasi, Komunikasi dan Media Baru secara optimal.
  • Mendorong terbentuknya ekosistem jaringan / kolaborasi radio yang lebih kuat dan bersinergi.
  • Pemanfaatan hasil inovasi berupa solusi teknologi terkini untuk stasiun dan jaringan stasiun radio yang dikembangkan oleh putra-putri Indonesia.

III. MATERI

  • Masa Depan Industri Kreatif, Penyiaran, dan Radio
  • Bisnis TIME (Telco, Information, Media, dan Edutainment) dan Era Radio 2.0
  • Inovasi Teknologi dan Bisnis Radio 2.0
  • Peluang dan Tantangan SDM Radio di Era Web 2.0
  • C-Generation dan Radio 2.0
  • Jurnalisme Radio 2.0
  • Pemasaran dan Berbagai Potensi Pendapatan Radio 2.0

IV. WAKTU DAN TEMPAT

  • Hari, Tanggal : Selasa, 13 April 2010
  • Jam : 08.30 – 15.30 WIB
  • Tempat : Aula Barat – Institut Teknologi Bandung (ITB)

Jl. Ganesa 10 Bandung 40132

V. SUSUNAN KEGIATAN

  • Seminar:

Keynote Speakers:

  • Menko Perekonomian : Ir. Hatta Rajasa
  • Direktur IT & CIO PT. Telkom, Tbk : Ir. Indra Utoyo, MSc.

Invited Speakers:

  • Expert Teknologi Penyiaran: e-Broadcasting Institute
  • Expert Litbang SDM ICT: Depkominfo
  • Expert Riset Media dan Komunikasi: AC Nielsen
  • Expert Jurnalisme Radio: KBR68H
  • Expert Marketing Media: Fortune Indonesia
  • Pameran:
  • Pilot Project Radio Broadcasting 2.0
  • Akses Internet Speedy
  • Perangkat Radio Digital
  • Perangkat TIK
  • Dan lain-lain

VI. SUSUNAN ACARA

No Jam Agenda Keterangan
Mulai Selesai
1 08.30 09.00 Registrasi Panitia
2 09.00 09.15 Laporan Ketua Panitia,

Vice Chairman

e-Broadcasting Institute

Dr. Agung Harsoyo, Kepala Lab. Sistem Kendali & Komputer ITB
3 09.15 09.30 Pembukaan Rektor ITB

(Prof. Akhmaloka, PhD)

4 09.30 09.45 Selamat Datang

Ketua Dewan Penasehat

e-Broadcasting Institute

Ketua Pengarah

(DR. Indra Abidin, Chairman & World President International Advertising Association)

5 09.45 10.15 Masa Depan Industri Kreatif, Penyiaran, dan Radio Menko Perekonomian *

(Ir. Hatta Rajasa)

6 10.15 10.45 Bisnis TIME (Telco, Information, Media, dan Edutainment) dan Era Radio 2.0 Direktur IT dan CIO

PT. Telkom, Tbk

(Ir. Indra Utoyo, MSc.)

7 10.45 11.15 Break Panitia
8 11.15 12.00 Inovasi Teknologi & Bisnis Radio 2.0 Hemat Dwi Nuryanto

(Chairman e-Broadcasting Institute)

9 12.00 12.45 Break Panitia
10 12.45 13.10 Peluang dan Tantangan SDM Radio di Era Web 2.0 Cahyana Ahmadjayadi

(Kepala Balitbang SDM Depkominfo)

11 13.10 13.35 C-Generation dan Era Radio 2.0 Ika Jatmikasari

(AC Nielsen)

12 13.35 14.00 Jurnalisme Radio 2.0 Santoso

Kantor Berita Radio 68 H (KBR68H)

13 14.00 14.25 Pemasaran dan Berbagai Potensi Pendapatan Radio 2.0 Amelia MS

(Fortune Indonesia)

14 14.25 14.50 Letter of Intent Panitia
15 14.50 15.15 Quiz+Door Prizes Panitia
16 15.15 15.30 Penutupan e-Broadcasting Institute (eBI)

* Pembicara dalam konfirmasi

VII. SUSUNAN PANITIA

  • Steering Committee:

  • Ketua : DR. Indra Abidin (Chairman dan World President International

Advertising Association, Ketua Dewan Penasehat e-Broadcasting

Institute),

  • Anggota : Prof. Adang Suwandi A (Dekan STEI-ITB),
  • Anggota : Wien Aswantoro W, SE, MBA. (Telkom),
  • Anggota : Soegiharto Santoso (Biskom),
  • Anggota : Subagdja Subiadinata (K-Lite Radio),
  • Anggota : Munawir Rifadhi (Direktur Eksekutif eBI).
  • Panitia Pelaksana:

  • Ketua : Dr. Agung Harsoyo (ITB),
  • Wakil Ketua I : Agung Yuwono (ZamrudTechnology),
  • Wakil Ketua II : Dr. Ary Setiadi P. (ITB),
  • Koord Materi : Sony Budi Winarso (Telkom),
  • Koord Admin : Ana Supriatna (eBroadcasting Insitute),
  • Koord Promo : Kujang Suryana (K-Lite Radio),
  • Pelaksana : Lab. Sistem Kendali & Komputer, STEI–ITB.

VIII. PESERTA

  • Pemilik dan Pengelola Radio Swasta, Publik, Komunitas, dan Pemda
  • Perusahaan Periklanan, KPI dan KPID, Praktisi dan Akademisi Bidang Komunikasi Penyiaran

Undangan

IX. BIAYA SEMINAR

  • Peserta

Rp 750.000,- (##tujuh ratus lima puluh ribu rupiah##) per orang

(Fasilitas: seminar kit, makan siang, coffee break, door prize)

  • Undangan

Gratis sejumlah undangan yang akan diberikan kepada sponsor dan undangan

XI. SEKRETARIAT

Lab. Sistem Kendali & Komputer ITB

GEDUNG AHMAD BAKRIE ( Labtek 8 ) lt 2

Jl. Ganesha 10, Bandung, 40132

Telp. : 022-2500960

Fax. : 022-2534217

C.P. : Misa Maryam (icha)

e-Broadcasting Institute (eBI),

SALMAN BUSINESS CENTER ITB lantai 2,

Jl. Gelap Nyawang No. 4, Bandung, 40132

Telp. : 022-2534305, 2534306

Fax. : 022-2534307

e-Mail : agung_y@yahoo.com; anasupriatna@yahoo.com; munawir2009@yahoo.com;

Tags:

Comments are closed.